20.7.16

I Love You from 38.000 ft

Dari dulu, saya pengen banget nonton film remaja yang dibintangi Michelle Ziudith. Kenapa...? Karena (sepertinya) film yang dibintanginya termasuk film enteng, dimana nggak perlu mikir dulu buat mencerna makna dari cerita filmnya, nggak ada adegan penindasan macam sinetron, dan biasanya ada beberapa dialog berbau romance yang bisa jadi sumber inspirasi saya dalam menulis artikel. Hahahaha.

Dan entah kenapa juga, keinginan simple saya itu nggak pernah kesampaian. Dari jaman Magic Hours sampai London Love Story. Baru kemarin, saya berkesempatan nonton film terbarunya, I Love You from 38.000 ft.



Awalnya, saya ogah-ogahan nonton film ini. Karena sepaham saya, film ini terinspirasi dari pramugari Air Asia QZ 8501 yang meninggal akibat kecelakaan pesawat sekitar setahun lalu. Judul film diambil dari unggahan foto pramugari tersebut yang berisi tulisan "I love you from 38.000 ft" dengan latar belakang langit biru melalui jendela pesawat. Postingan foto sebelum kecelakaan itu pada akhirnya justru menjadi kenangan memilukan yang menuai banyak komentar dan deep condolences dari para netizen di seluruh dunia.


 Lalu, kesimpulan saya film ini bakalan sad ending. And I didn't like to watch a movie with the sad-ending. Tapi demi mengisi waktu luang, serta "kebetulan ada ajakan dari teman (yang nge-fans dengan Rizky Nazar)", maka saya setuju buat menonton film ini. *remeh banget.

Sesuai dugaan, film ini bisa dibilang ringan banget. Diawali dengan pertanyaan Aletta (Michelle Ziudith) berikut ini :
"Kalau orang nggak saling kenal, nggak saling cinta, lalu menikah, apa bisa bahagia?"
Cerita berlanjut ke pertemuan (secara kebetulan) berkali-kali antara dia, dan cowok super dingin bernama Arga (Rizky Nazar). Pertemuan tersebut membawa mereka ke project liputan bersama selama beberapa hari di bali (sepertinya).

Arga : "Kenapa butuh waktu 30 hari?"
Aletta : "Untuk membuat semuanya sempurna".

Dialog mereka (lebih tepatnya, its a kind of flirting) saat Aletta berusaha merubah script liputan membosankan milik Arga. Dari sana lah dimulai perjuangan Aletta untuk membuat Arga mengakui perasaannya (because somehow, Aletta yakin banget kalau Arga menaruh hati padanya).
"Setiap orang punya cara masing-masing dalam menunjukkan perasaannya,"
Aletta pun berusaha memancing dan menarik perhatian Arga dengan segala cara. Mulai drama pura-pura keseleo, pura-pura tenggelam, dan modus minta diajari mengendarai sepeda (khas remaja-banget). And its worth the pain. Arga menyadari perasaannya pada Aletta. Ya, mereka saling jatuh cinta.
"Ada beberapa hal di hidup ini yang terlalu indah buat sekedar diabadikan dengan kamera."
Lalu selanjutnya, penonton akan dimanjakan dengan pemandangan alam yang indah, dengan beberapa adegan romantis kebersamaan Aletta dan Arga.


Kebersamaan mereka harus berakhir (sementara) saat Aletta kembali ke Jakarta, sementara Arga masih harus menyelesaikan pekerjaannya di Bali. Arga juga berjanji untuk menemui Aletta disaat ulang tahunnya.
"Terkadang orang yang nggak saling mengenalpun bisa saling jatuh cinta dan bahagia." 
Sebelum berpisah, Arga memberikan kenangan berupa surat (dibuat semacam message in the bottle) berisi kalimat diatas beserta ungkapan isi hatinya terhadap Aletta.


Bencana dimulai saat pesawat yang membawa Arga (dalam perjalanan menemui Aletta) mengalami kecelakaan. Pesawat tersebut jatuh tepat saat pesta ulang tahun Aletta berlangsung. Then I'm just wondering, gimana hancurnya perasaan Aletta saat mendengar kabar kecelakaan itu. Apalagi saat jenazah Arga nggak ditemukan. Meskipun Aletta bersikeras bahwa Arga masih hidup, tapi toh dia nggak bisa menolak saat keluarga besarnya menjodohkannya dengan Dhito (Verrel Bramastya).

Setahun berlalu. Dengan perasaan yang hancur tanpa kepastian tentang keberadaan Arga, Aletta menjalani semua persiapan pernikahannya dengan Dhito. Saat H-sekian dari hari pernikahannya, Aletta mendapat telepon mengejutkan berisi suara Arga. Jelas, Aletta langsung "melupakan" persiapan pernikahannya, lalu mati-matian mencari kepastian tentang Arga.

Aletta nggak mendapat kepastian apapun sampai Hari-H pernikahannya. Di saat akad nikah, mendadak Dhito membatalkan pernikahannya karena melihat Arga yang datang di pernikahan mereka. Di menit-menit terakhir film ini, semuanya terbongkar.

Tentang alasan Dhito membatalkan pernikahannya, tentang Arga yang "menghilang", tentang keyakinan Aletta bahwa Arga masih hidup (yang berbuah manis), tentang Arga yang "nggak bisa" menemuinya selama setahun, dan tentu saja....happy ending dari film ini. *spoiler.



Overall, menurut saya, film yang udah menembus 1 juta penonton lebih dan masuk dalam deretan 10 film terlaris di Indonesia ini cukup menghibur. Alur cerita yang mudah dimengerti, beberapa kejutan di menit terakhir film, penampilan Aletta yang cute but quite aggresive, gaya Arga yang sok-nggak-butuh tapi diam-diam menyimpan perasaan yang cukup mendalam pun benar-benar jadi hiburan tersendiri. Yah, cukup bikin penonton antusias (lalu ber-ciyee-ciyee nggak jelas) selama film berlangsung. Meskipun buat saya, film ini juga diwarnai beberapa dialog romance yang sedikit cheesy khas cinta-cintaan remaja. *meh.

And the last, buat kalian yang "butuh hiburan", bisa banget nonton film ini. Quite recomended sih menurut saya. Selamat menonton (dan ikut demam ILY from 38000 ft). Hahahaha.

Labels :

5 komentar:

Santi Dewi said...

saya baru tahu kalo film ini terinspirasi dari pramugari air asia :) buat yang pengen nonton yang ringan2, mungkin ini memang cocok ya...

Rizky Ashyanita said...

haloooo mbak mif, long time ni beweee ke sini nih hehe
duh, aku kena spoiler nih :(
emang dulu sempet pengen nonton film ini karena rizky nazaaarnya cutee banget wkwk

miftah faradisa said...

Santi : iya terinspirasi dari mbak pramugari... bener..cocok dan ringan banget.. :D

Ashya : long time no see too... ternyata fans Rizky Nazar toh... cepetan nonton deh.. :d

Aireni L.B. said...

Baca endingnya aku kok teringat kuch-kuch hotahe ya, Mbak. Mirip-mirip lah waktu Arman membatalkan pernikahan dah membiarkan Anjeli menikah dengan Rahul. Hehe

miftah faradisa said...

Aireni : nah iya.. emang mirip endingnya mbak..